Posted by: eensmile | December 17, 2009

Sketsa Pelangi

Berjalan pergi dan pulang tak melihat matahari, selalu membelakangi. Rona dan bayang-bayang itu menari dan selalu setia mengikuti, bahkan cerahnya sore sudah tak mungkin dinikmati lagi, pulang dan pergi membelakangi matahari, aku hanyalah seseorang yang telah sekian lama hampir tak mengenali wujudku sendiri. dalam tarian sepi, burung-burung kembali pulang dan menghiburku dengan bahasa yang tak kumengerti.

Sore ini, aspal jalanan Bekasi sudah kembali terbasahi, derai hujan di bulan Desember, semua orang berlari dikejar mendung yang masih saja menyelimuti. halilintar yang menyambar-nyambar langit seakan bicara pada bumi :

“Ini aku, dengan gelegar dan kilat cahayaku, tidakkah kau mengerti.. bahwa tanah merahmu telah banyak terlukai, tunjukkan bahwa kau mampu menebar wangi di ranah mu yang dulu hijau meski tak lagi banyak yang peduli, tunjukkan seperti sesekali kutunjukkan wujud asli ku pada alam dengan nyalaku yang menggetarkan”

Entah kapan musim berganti, aku bahkan sudah tak ingat lagi, aku terus berjalan melangkahkan kaki, bergegas merangkul hari dan berlari tanpa menoleh lagi, dalam benak terdengar suara yang terus membisik pada hati, dia berpesan padaku untuk tidak membiarkan rasa itu terus berpelangi dan kembali memainkan emosi, karena sama halnya dengan yang sudah berlalu, mereka adalah senja yang datang untuk beberapa saat lalu kemudian bersiap untuk pergi.

Kawan, dimanakah langit yang putih dan menghamparkan banyak keindahan? apa yang sebenarnya kau cari? sementara dirimu hanya mampu berdoa demi kebahagiaan dan kebaikan seseorang kala kau merinduinya. Pejamkan matamu dan nikmati cahaya mata yang teduh bagai orion dengan lengkungan senyum seindah pelangi.

Kamu tahu, dan jangan pernah menyesali, itu lebih dari cukup… semoga itu memberimu kekuatan untuk pergi dan berlari, meskipun sayapmu sengaja kau tinggal dan titipkan pada bidadari dan malaikat kecilmu ini, sayap-sayap yang tak terlihat dan kau patahkan sendiri lalu kau berharap akan terbang melesat tinggi, ditengah euforia cerita lama yang seolah bangkit kembali. kelak pada saatnya nanti akan ada yang memberi tahu, sayap semu mu hanya kugantung pada bingkai-bingkai sketsa yang berdebu tanpa makna. Itu kan inginmu?

 Bisikkan dalam setiap tarikan nafas, kepada diri. mungkin tidak saat ini, mungkin nanti kamu akan menyadari, aku seperti bintang diutara yang tampak cemerlang dari manapun kau melihatnya…itu saja yang kira-kira yang harus kau akui. berbaik sangkalah.. itu baik untuk hati.

Advertisements
Posted by: eensmile | November 28, 2009

Sekedar Analogi

Tiap bertemu.. hai hai! bego.., aku canggung, aku goblok !!
aku seperti tidak mengenalmu (lagi), hanya tau namamu, tanpa pernah menilik hatimu, tanpa pernah ingin tau semua tentang mu (lagi), berusaha menjadi luwes lantaran sebenarnya memang sudah tidak perlu lagi ada keluwesan-keluwesan yang harus tercipta.. karena kamu telah pergi beberapa saat yang lalu, tinggalkan kebekuan dan senyap panjang.

Suatu hal yang tidak pernah kupersiapkan sejak dulu adalah kehilanganmu, aku hanya sibuk belajar bagaimana caraku untuk bisa menyayangi mu, bukan untuk kehilanganmu. sekali lagi bukan.

Aku kini tak tau lagi arahmu kemana, dan aku rasa kamu pun tak perlu tau lagi aku akan pergi kearah mana. Semalam kubuka kembali semua catatan tentang kita, setiap lembar cerita yang dulu kutuangkan dalam goresan kata dan kalimat asa.

Aku tertunduk disini, memandangmu pergi dari balik kerumunan manusia di statiun kereta api, Aku tak punya apa-apa  yang bisa kukatakan untuk membuat mu kembali ke stasiun yang sama tempat ku berdiri saat ini, dan diantara  kelebat elegi aku pernah memintamu untuk menjaga semuanya tetap seperti yang pernah kita miliki, namun kau hanya diam.. memandangku seolah kamu pun setuju, membisu lalu kamu pergi dan berlalu dari hadapanku…

Biarlah, hari ini aku akan tetap mengatakan sesuatu padamu, tak perduli apapun kata orang tentangku. Bila suatu saat kamu datang, aku pastikan tulisan ini untukmu. tanpa mengurangi rasa hormatku pada apapun (maaf kubilang apapun, bukan siapapun) yang menjadi bagian cerita dan terkait dengan koordinat yang terlanjur ku titikkan untukmu. Koordinat itu sudah terlanjur kupilih untuk menjadi konstanta yang selalu kugunakan dalam tiap formula ku. bukankah merubah konstanta artinya aku harus membongkar semuanya dari awal?  padalah kini aku telah sampai pada baris ke 1095 dari source code yang kubangun untukmu *jika boleh ku analogikan*, untuk kita. melelahkan…. 😦

Ow, kamu telah mencuri buku sakti yang berisi rumus-rumus kelemahanku, kamu curi disaat aku tertidur lelap diayun gelombang. kamu curang, mengantarkanku bermimpi tinggi lalu meninggalkanku dalam dingin dan sepi. lalu ketika aku terbangun…..

 “Error while trying to run project: Unable to start debugging on the web server. Debugging failed because integrated bla bla bla….”

dan serentetetan error message lainnya…aku menangis, tertunduk sendiri………di baris 1095 ini, mungkin baiknya begini :

“aku harus membuat program baru lagi?”  dilembar hidupku yang baru….

Mari memulainya dari awal lagi… 🙂

Posted by: eensmile | November 27, 2009

Mekanisme Jatuh Cinta

Waduh awal-awal posting sudah membicarakan tentang jatuh cinta 🙂

Saya yakin kita semua tau, bahwa jatuh cinta merupakan mekanisme yang alami dan siapa saja mungkin jatuh cinta. Pernah gak, cuma sekedar berkenalan dengan seseorang, lalu mulai tertarik terhadapnya entah karena apa, lalu mulai memikirkannya dari hari kehari, walaupun mungkin belum banyak interaksi yang dilakukan bersama-nya?

Hanya sekedar tau sedikit tentang dia, kesehariannya atau kebersahajaannya. atau bahkan tidak tau apa-apa tentang dia sebenarnya, hanya merangkai-rangkai intuisi dan persepsi kita tentang dia yang sebenarnya belum tentu benar.

“Wah, dia ramah sekali, kayaknya enak diajak ngobrol,
kata-katanya yang terstruktur dan dewasa”
  pasti dia baik ya orangnya. *lagi-lagi hanya persepsi kita yang berbicara*

Ketika melihat dia menyebrangkan seorang nenek dijalan, pikiran kita berpersepsi lain lagi.. “hmm..sepertinya dia penyayang dan sangat menghormati orang tua” *timbul desir2 aneh dalam hati :-D* yang pada fase berikutnya seringkali membuat kita berpikir terlalu dalam tentang dia. sepertinya semua tentang dia terlihat manis. hanya sebaris sms saja kadang sudah bisa membuat kita nyengir-nyengir seperti kuda. *pengalaman pribadi bukan yah??* 😉

Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita.

Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan? Itulah salah satu keunggulan mekanisme pikiran kita.

Lalu hari hari berlalu, mulai tampak hal-hal yang kurang atau tidak kita sukai dari dirinya 😦 . Salah seorang teman saya pernah bilang

 “kita menyukai sesorang karena kita tidak terlalu banyak tau tentang dia, dan kita menjadi penasaran dengan itu, setelah kita banyak tau, bisa saja mendadak dia menjadi sosok yang ternyata biasa-biasa saja dimata kita”

Hasilnya, saya mengangguk-angguk pasrah tanda setuju. Pada fase ini,menurut saya cinta sudah mulai main logika, bukan emosi semata. dan, ketika kita mulai mau belajar menerima segala kekurangannya, saling mengisi, perasaan kita sudah diwaranai oleh rasa tanggung jawab, permakluman, peran sosial, dan … lagi-lagi semuanya terdengar indah bukan?

Saya rasa begitu pula ketika kita belajar mengenal Allah, Dzat Yang Maha Tinggi yang telah mengakaruniakan kita dengan berbagai cinta.. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata Ustadz di tempat pengajian saya, dan lain sebagainya.

Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang DIA dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu?

Apakah kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang DIA  yang terbentuk di kepala kita?

Sudahkah kita mengenal DIA yang sebenarnya, dan bukan sosok DIA yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? DIA yang asli, atau DIA yang imajinasi kita? Padahal Allah tidak menerima penyembahan selain kepada DIA. DIA yang asli lho ya, bukan imaji! *Wallahualam Bishowab”

Dan karena pintu mengenal Allah adalah dengan hati yang bersih, maka jangan sampai mengaku mencintai-Nya jika belum menjalankan syariat yang telah ditetapkan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. *koreksi untuk diri sendiri tuh, hehe* 🙂

Jadi, mekanisme mencintai seseorang dan mencintai Allah sama ya? sampai disini saya tidak punya jawaban yang bisa di pertanggungjawabkan. menurut saya, dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Allah, semakin berinteraksi dengan-Nya, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. *Amin*

Posted by: eensmile | November 26, 2009

Hening…

…Kali ini hanya ingin diam…
hening dan coba enyahkan bayang-bayang
…Kali ini hanya ingin duduk sendiri…
sunyi dan coba singkirkan elegi
Kali ini kuingin hanya aku dan DIA saja yang ada
*Hanya aku dan DIA*
….

Categories